Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Oktober 2013

9 Karakter Kepala Sekolah yang Berhasil

Posted by http://smpngalis2.blogspot.com/ | 17.59 Categories:
11 Oktober 2013
oleh: Agus Sampurno

Ada guru yang memang senangnya mengajar siswa dan berada di kelas. Guru tersebut menikmati sekali melewatkan kesehariannya sebagai guru yang dikelilingi siswa dan menghantarkan pengetahuan kepada siswanya. Ia juga menikmati melihat siswanya berbubah dan menjadi paham karena perannya sebagai guru.

Ada juga karena satu dan lain hal atau karena promosi guru tadi diangkat sebagai kepala sekolah. Saat menjalani peran barunya penting kiranya untuk mengetahui ciri pribadi kepala sekolah yang berhasil.
  • Senang akan perubahan. Ia senang membuat perubahan demi siswa dan demi kemajuan gurunya. Ia konsisten mengawal perubahan dan menjadi contoh orang yang pertama kali berubah. Ia jadi sosok yang sadar dan cepat mengambil keputusan dalam perubahan karena ia sadar perubahan yang baik mesti diniatkan jika tidak ingin kehilangan kesempatan.
  • Bersikap proaktif dan senang menciptakan kesempatan. Karena ada atau tidaknya kesempatan tergantung cara pandang seseorang. Kepada guru-gurunya ia menjadi contoh dalam bersikap proaktif dan menghindari menunda-nunda penyelesaian masalah karena akan menjadi hal yang besar dan berdampak pada keutuhan proses belajar mengajar di sekolah.
  • Punya kemampuan komunikasi yang baik dan berhati-hati saat mengeluarkan pernyataan. Bukan hanya pejabat public yang mesti berhati-hati dalam mengeluarkan kalimat pernyataan. Kepala sekolah juga mesti berpikir panjang sebelum mengeluarkan pernyataan agar suasana kondusif tetap tercipta di sekolah.
  • Sayang pada guru-gurunya. Kepala sekolah yang baik adalah juga guru yang baik karena dulunya juga pasti ia adalah seorang guru. Semua kebijakannya akan berujung pada upaya untuk membuat guru betah dan menciptakan iklim sekolah yang kondusif dan suasana kerja yang positif.
  • Senang gunakan social media. Kepala sekolah yang masih memandang sinis guru-gurunya yang aktif di social media adalah kepala sekolah yang jadul dan ketinggalan jaman. Semestinya ia lah yang mesti memandang social media sebagai media yang efektif untuk alat pembelajaran, berkomunikasi dan menjadi mitranya dalam memimpin.
  • Memprioritaskan proses pembelajaran. Pembelajaran yang saya maksud bukan sekedar berkonsentrasi pada tes dan ujian nasional namun membagi perhatian yang seimbang juga pada aspek yang lain misalnya aspek olah raga dan kesenian. Sekolah yang baik adalah sekolah yang bisa menyeimbangkan aspek akademis dan aspek minat dan bakat siswa.
  • Gemar berkeliling dan mengontrol. Kepala sekolah akan kehilangan kesempatan untuk mengetahui perkembangan terkini di sekolahnya jika hanya duduk di ruangannya.
  • Menghargai latar belakang keluarga-keluarga yang mempercayakan anaknya untuk bersekolah di tempat ia memimpin. Kepala sekolah adalah gambaran dari cara sekolah menghargai orang lain yang berbeda. Setiap individu punya kesempatan yang sama besarnya untuk berubah menjadi lebih baik. Jika ia cepat nyinyir dan menghakimi maka ia akan sulit untuk menjalin hubungan yang baik dengan orang tua siswa.
  • Hormat kepada pengawas dari Diknas sambil tetap melengkapi referensi pengetahuan dari sumber lain. Kepala sekolah yang berasal dari sekolah yang unggul dan bagus mutunya cepat punya penilaian yang merendahkan pengawas dari diknas hanya karena pengetahuan atau cara kerja yang berbeda. Sebaliknya sekolah yang baru berkembang kadang terjebak menjadi begitu mengiyakan apa saja yang pengawas katakan tanpa punya rujukan lain sebagai pembanding.


(Penulis adalah Kepala Sekolah Ananda Islamic School)

Blog:
 gurukreatif.wordpress.com

Ingin Menjadi Guru yang Menyenangkan? Tidak Sulit Kok...

Posted by http://smpngalis2.blogspot.com/ | 04.40 Categories:
23 Agustus 2013

Tidak semua dari masing-masing guru memiliki cara mengajar yang sama. Cara mengajar dari guru pun juga ada yang berbeda-beda seperti mengajar dengan serius, monoton dan menakutkan. Tidaklah heran jika siswa terkadang dapat mengetahui suasana dari guru yang sedang mengajar di depan kelas.

Di era modern ini, tidak sedikit siswa mendambakan guru yang tidak monoton dan menyenangkan. Dengan pembawaan guru yang menyenangkan, pastilah siswa dapat menerima pelajaran dengan baik. dan akhirnya, kelas memiliki suasana yang kondusif serta mengurangi rasa jenuh saat belajar.

Para guru pun juga akan berpikiran sama yakni menjadi seorang guru yang menyenangkan namun banyak guru yang masih bingung untuk menjadi guru yang disenangi siswanya. Dengan menjadi seorang guru yang menyenangkan, siswa dapat berbagi seputar masalah-masalah yang dihadapi ketika menuntun ilmu di sekolah. Ketika siswa dapat berbagi pengalaman, guru dapat menilai serta memberi solusi terhadap masalah yang dihadapi siswa.

Kedengarannya memang mudah. Bagaimana mempraktikkannya? Ada beberapa cara yang mungkin bisa membantu Anda untuk menciptakan komunikasi yang efektif antara pengajar dan anak didik berikut ini.

1. Coba bersikap menyenangkan pada hari pertama sekolah
Pada setiap awal tahun ajaran, atau semester, carilah waktu yang tepat untuk membuat semua aturan, dan kesempatan bagi siswa untuk berkomunikasi tentang berbagai situasi, termasuk pada siswa yang ‘bermasalah’. Seorang guru harus memastikan bahwa siswa merasa didekati sejak hari pertama sekolah.

2. Lakukan seperti Anda ingin diperlakukan
Seorang guru tentu ingin dan mengharapkan orang lain memperlakukan kita dengan hormat, berkomunikasi dengan jelas, dan memberikan tanggapan yang sesuai. Sikap empati dan melibatkan diri berdiskusi dengan siswa akan mengurangi sikap defensif dan memungkinkan para siswa merasa nyaman.

3. Berkomunikasi secara jelas dan singkat
Banyak guru berusaha untuk menyampaikan banyak informasi pada satu waktu, tetapi itu akan membuat siswa kelebihan beban informasi, kewalahan, dan sulit mencerna. Maka itu, seorang guru selaiknya melakukan komunikasi yang rutin, singkat, dan terfokus dengan siswanya. Sebab, tidak semuanya harus diselesaikan dalam satu diskusi.

4. Guru harus menjadi panutan kejujuran dan moral
Siswa sangat cerdik dalam memahami kejujuran guru. Seorang guru harus mengakui jika tidak mengetahui jawaban atas pertanyaan yang diajukan siswanya. Tetapi, guru harus berjanji untuk berupaya menemukan jawaban sebelum kelas berikutnya. Tidak jujur adalah kesalahan dalam mendidik.

5. Hindari sifat menuduh dan main hakim sendiri

Seorang guru tentu ingin siswanya mengerti apa yang diajarkan tanpa membenci guru atau mata pelajarannyanya. Untuk itu, seorang guru sebaiknya tidak menghakimi, dan menuduh, tetapi harus memberikan pesan yang mudah ditafsirkan. Itu akan meningkatkan probabilitas siswa mendengarkan apa yang guru katakan.

6. Jadilah proaktif
Seorang guru harus berjuang ke arah gaya mendidik yang proaktif. Selain ada keuntungan dari momen yang spontan, tapi dapat juga digunakan untuk berkomunikasi dengan siswa, misalnya mengatur jadwal berdiskusi di luar jam mengajar.

7. Menjadi pendengar yang aktif
Mendengarkan secara aktif menunjukkan bahwa guru benar-benar mencoba untuk memahami secara verbal dan nonverbal pesan yang disampaikan, merasakan perasaan, dan pikiran. Menjadikan siswa yakin dan merasa dihargai bahwa apa yang mereka sampaikan mendapatkan perhatian.

8. Ciptakan humor
Humor adalah bahan penting dalam proses komunikasi. Humor dapat meringankan, dan menjadi fasilitas yang baik ketika seorang guru tengah mengajarkan sesuatu kepada muridnya.

9. Sabar dalam mengulang pelajaran yang belum dimengerti
Komunikasi adalah proses yang berkelanjutan. Siswa mungkin harus mendengarkan apa yang diajarkan berkali-kali sebelum mereka memahami dan masuk ke dalam pikirannya.

(Albert Sentosa, dikutip dari berbagai sumber)

Pribadi yang Harus Dimiliki Seorang Guru di Era Modern

Posted by http://smpngalis2.blogspot.com/ | 04.39 Categories:
16 Agustus 2013

Di abad ke 21 ini, banyak orang beralih kepada teknologi yang memudahkan mereka dalam berkomunikasi. Sesuai dengan tuntutan zaman, pendidikan haruslah mengikuti alur globalisasi tanpa mengesampingkan nilai-nilai budaya dan moral yang melekat pada setiap negara seperti Indonesia.

Jika pendidikan dituntut harus modern maka sebagai pencetak generasi penerus bangsa, para guru juga harus berpikir secara dinamis dan perlahan meninggalkan cara pembelajaran yang statis. Memang cara lama yang digunakan untuk belajar juga bisa menjadi panutan namun tidaklah salah jika mencoba melakukan perubahan cara pembelajaran secara bertahap namun pasti.

Jika cara pembelajaran guru bersifat statis seperti membaca, mencatat dengan mendikte, kerjakan tugas dan kumpulkan tugas maka musuh terbesar siswa adalah satu kata"Jenuh". Siswa merasa seakan - akan tidak memiliki gambaran dalam pengalaman mereka selama belajar di sekolah. Jadi, tidak heran jika siswa datang ke sekolah bukan dengan perasaan semangat melainkan terpaksa bahkan bisa jadi siswa mudah bolos sekolah karena cara pembelajarannya tidak sesuai dengan yang diinginkan.

Dalam memberikan pembelajaran menurut kita benar belum tentu siswa dapat menerima karena setiap siswa pastilah memiliki daya tangkap yang berbeda. Ada yang cepat, standar dan ada yang harus dibimbing secara langsung. Oleh karena itu cobalah anda sesuaikan dengan cara belajar anak agar semua siswa dapat menangkap apa yang anda sampaikan dalam belajar.

Dewasa ini banyak sekolah yang memakai standar guru yang diterima seperti halnya sertifikat yang dimiliki seorang guru. seperti halnya guru harus memiliki sertifikat minimal sudah sarjana atau S-1. Beruntung jika mendapatkan seorang guru yang memiliki sertifikat yang lebih tinggi dari sarjana.

Mungkin ini memang memenuhi syarat seseorang untuk menjadi seorang guru, tetapi belum tentu guru yang paling efektif mereka berpotensi bisa memberikan ilmunya secara merata terhadap siswanya.Untuk itu selain wawasan, keterampilan juga perlu anda kembangkan sebagai guru. keterampilan apa sajakah itu? Berikut sikap yang harus dibangun sebagai guru modern di abad 21 ini.

1. Mempunyai jiwa pemimpin
Guru yang baik adalah mentor dan contoh untuk siswanya. Sebagai guru tidak cukup hanya memberitahu siswa untuk melakukan sesuatu melainkan perlu menunjukkan dengan contoh agar siswa dapat memahami apa yang disampaikan. Guru harus mendorong dan membimbing siswa untuk meraih sesuatu yang dapat menambah wawasannya.

2. Memiliki sikap diplomasi
Guru harus sabar dan fleksibel dalam mendengarkan ide-ide yang dikembangkan oleh siswa namun buatlah mereka percaya diri dalam keputusan yang diambil. Ketika seorang guru bertemu dengan siswa dan orang tua, mereka harus halus dan tegas pada saat membawakan informasi. Guru adalah diplomat, dan itu berarti pemikiran guru harus berjalanbersama-sama dengan siswa dan orangtuanya.

3. Memiliki visi 
Apakah Anda tetap konsisten mengikuti jadwal yang dibuat namun terlibat dengan keadaan yang darurat? Apakah Anda selalu memiliki rencana cadangan ketika pekerjaan anda tidak sejalan dengan yang diharapkan? Kemampuan untuk mengatur dan mempersiapkan diri untuk berbagai keadaan yang tak terduga sangat penting untuk pengajaran yang efektif.

4. Giat belajar
Setiap beraktivitas, berarti anda sedang belajar. Sebagai seorang guru, proses belajar tidak boleh berhenti. Waktu yang dihabiskan untuk mendapatkan gelar secara langsung mengajarkan anda bagaimana untuk konsisten dalam belajar. Setiap tahun Anda bisa menemukan cara-cara baru untuk mengajar, informasi baru yang dapat diberikan, serta memperoleh pemahaman yang lebih baik untuk siswa yang bisa membuat Anda menjadi guru yang dikenal sebagai guru modern.

(Albert Sentosa, dikutip dari berbagai sumber)
http://www.kesekolah.com/solusi-pendidikan/pribadi-yang-harus-dimiliki-seorang-guru-di-era-modern.html

Hukuman Mendidik Menjaga Motivasi Belajar

Posted by http://smpngalis2.blogspot.com/ | 04.37 Categories:
9 September 2013
oleh: Toha Nasruddin

Siang terasa terik, panas matahari terasa perih membakar kulit, beberapa anak terlihat berjejer di depan sebuah kelas, menghadap ke tiang bendera. Sesekali mereka mengusap keringat yang mengucur membasahi wajah.

"Anak-anak malas, selalu ada alasan tak mengerjakan PR" kata seorang rekan yang baru saja keluar dari kelas yang ada dibelakang anak-anak malang tadi.

Sebagai seorang guru, sudah sewajarnya mafhum akan pentingnya motivasi belajar dalam kegiatan belajar mengajar. Guru sebagai fasilitator proses belajar mengajar amat perlu mempertahankan semangat belajar siswa. Terbukti siswa hanya akan giat belajar jika mereka termotivasi untuk belajar. Dengan demikian maka guru perlu mengenal cara-cara untuk memotivasi belajar siswa agar pembelajaran tetap berlangsung seperti yang diinginkan guru.

Begitu pula dengan pemberian tugas semisal PR, tugas sebisa mungkin jangan membebani siswa diluar batas kemampuannya. Tugas yang terlalu memberatkan justru melemahkan motivasi siswa untuk menyelesaikannya, akhirnya siswa memilih untuk tidak mengerjakan tugas tersebut. Menghadapi siswa yang tak mengerjakan PR terkadang pendidik cepat tersulut emosi, sehingga terburu-buru memutuskan bentuk hukuman. Hukuman yang paling lazim adalah dijemur menghormat bendera, berlari keliling lapangan, push up atau menghukum siswa berdiri di depan kelas sepanjang jam pelajaran berlangsung. Hukuman yang hanya bersifat fisik jauh dari kesan mendidik, hukuman seperti ini harus dijauhi oleh guru.

Sebagai lembaga pendidikan, maka semua proses didalamnya haruslah mengandung unsur mendidik, sekolah bukan lembaga peradilan yang bertugas memberi hukuman pada siswa yang divonis bersalah. Oleh karena itu segala sesuatu yang dilakukan oleh sekolah haruslah dimaknai sebagai bagian dari proses pendidikan, termasuk didalamnya ketika harus memberikan sanksi pada peserta didik yang melanggar.

Bagaimanapun juga siswa yang bersalah harus tetap diberi sanksi supaya menimbulkan efek jera, baik bagi siswa bersangkutan ataupun siswa lainnya. Oleh karena itu, memberi hukuman yang mendidik bukanlah hal yang sederhana. Disatu sisi, hukuman harus ‘membebani’ agar menjadi efek jera, tapi disisi lain harus tetap memiliki muatan pendidikan.

Bentuk hukuman yang paling sering dilakukan adalah dengan cara memberi teguran. Cara ini dirasa lebih baik jika dibanding dengan kecaman, bentakan ataupun sindiran, selain itu cara ini juga lebih mendidik. Celaan terhadap siswa harus dihindari oleh guru, karena memungkinkan akan menerbitkan rasa putus asa siswa sehingga membunuh motivasi belajarnya.

Cara lain yang bisa digunakan adalah dengan memberi penugasan, hukuman ini dapat menjadi alternatif bagi siswa yang tidak mengerjakan PR, lupa membawa buku tugas, perbaikan nilai setelah remidi lebih dari 2 kali dan sebagainya. Penugasan pun harus diberikan dengan banyak variasi, hal ini untuk menghindari kebosanan siswa terhadap tugas yang diberikan. Intensitas tugas juga harus menjadi perhatian, jangan terlalu sering, jangan pula terlalu jarang.

Bentuk hukuman lain yang dapat digunakan adalah ‘menulis’. Daripada meminta siswa menulis satu kalimat secara berulang-ulang, rasanya lebih bermanfaat jika guru meminta siswa membaca buku diperpustakaan dan mengumpulkan resensinya, mencari informasi tertentu di internet, membuat kliping tentang suatu tema dari Koran atau majalah dsb.

Hukuman yang baik juga tak boleh mempermalukan harga diri siswa yang membuat kesalahan. Hukuman yang mempermalukan siswa jika tak terkelola akan menyulut dendam yang justru berpotensi membuat siswa melakukan kesalahan yang lebih besar.

Jadi dalam pembelajaran di kelas guru dapat memberikan hukuman yang mendidik kepada siswa supaya selain membuat efek jera tetapi juga siswa mendapatkan manfaat positif dari hukuman tersebut, sehingga dapat lebih meningkatkan motivasi belajar dan nantinya meningkatkan juga hasil belajar.

Akan tetapi, jika kesalahan siswa dapat diperbaiki tanpa hukuman tentu akan lebih baik, karena tujuan utama memberi sanksi adalah agar siswa tak mengulangi lagi kesalahan yang sama. Namun yang pasti, jika harus dihukum, apapun bentuknya hukuman tak boleh mematikan motivasi belajar siswa.

(Penulis adalah seorang Guru SMPN 1 Cibeber, Cianjur)

Blog: www.kelas-sains.com
http://www.kesekolah.com/solusi-pendidikan/hukuman-mendidik-menjaga-motivasi-belajar.html

Yuks Cari Tahu Sumber Motivasi Anak!

Posted by http://smpngalis2.blogspot.com/ | 04.36 Categories:
28 Agustus 2013

Setiap anak pastilah memiliki daya tangkap yang berbeda-beda saat mereka sedang belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Terkadang anak seringkali belum paham bagaimana caranya untuk mendapatkan nilai yang baik dalam pengalaman belajarnya yang akan ditempuhnya.Untuk pengalaman belajar, tentulah anak harus memiliki pengalaman belajar yang lama dan memiliki nilai yang baik agar ketika dewasa ia berguna di masyarakat. Inilah sebabnya mengapa kita sebagai orang tua harus melakukan segala untuk membantu dan memastikan bahwa anak-anak kita menikmati sekolah dan mendapatkan nilai terbaik

Biasanya jika anak dibekali rasa percaya diri sejak kecil , ia akan dapat belajar secara baik ketika melanjukan ke jenjang lebih tinggi. Namun pada kenyataanya, anak seringkali minder saat mengawali bulan pertamanya masuk sekolah.

Disini orangtua harus berfungsi sebagai motivasi anak untuk membantu mereka mengawali hari-hari mereka sebagai siswa di sekolah. Cobalah untuk menerapkan metode agar anak dapat meningkatkan produktifitasnya seperti berikut ini.

1. Mendorong Keingintahuan dalam berkreativitas
Keingintahuan adalah aspek yang sangat penting dari pembelajaran. Anak-anak yang memiliki tingkat tinggi rasa ingin tahu dan didorong untuk mengikuti dan belajar dari pertanyaan yang mereka miliki, cenderung menjadi diri termotivasi dan melakukannya dengan baik di sekolah.

Kreativitas berkaitan erat dengan rasa ingin tahu alami dan juga harus dipelihara dan dihargai. Bagian dari mendorong rasa ingin tahu dan kreativitas memungkinkan untuk waktu luang bagi mereka untuk belajar dan mempelajari mata pelajaran yang menarik bagi mereka.

2. Memiliki Tempat yang tenang untuk belajar
Lingkungan fisik untuk belajar tanpa gangguan merupakan hal sangat pentingdalam belajar.Memiliki tempat belajar yang tenang membuat perbedaan besar dalam membantu anak berkonsentrasi dan menganggap belajar adalah hal yang penting untuk mencapai keberhasilan kelak.

3. Ajarkan anak untuk konsisten terhadap peraturan yang rutin
Manusia berhasil dalam pendidikan karenamenerapkan peraturan dalam hidup merekabegitu pun juga dengan anak. Orang tuadapat memberikan peraturan yang terstruktur untuk anak-anak dan membantu mereka memahami pentingnya pilihan apa yang baik seperti contoh ketika anak dihadang dengan 2 pilihan seperti ingin bermain padahal PR belum diselesaikan. Maka anak akan berpikir apa yang menurut mereka lebih penting pasti akan dikerjakan terlebih dahulu.

4. Mempunyai komunikasi baik dengan guru
Tidak hanya anak, orangtua pun juga harus memiliki relasi yang kuat dengan orangtua didiknya ketika di sekolah. ketika sulit untuk mengetahui bagaimana membantu anak jika tantangan yang mereka hadapi, seorang guru dapat memberikan penjelasan yang sangat spesifik dari keahlian anak dalam belajar sehingga orangtua mengerti bakat serta mencarikan solusi apabila anak merasa kesulitan dalam memahami pelajaran yang diberikan.

5. Kenalkan teknologi kepada anak
Saat ini, kita hidup di dunia serba digital karena pesatnya teknologi karya ciptaan manusia. Berikanlah perhatian khusus untuk anak seputar teknologi yang ada saat ini. seperti halnya komputer. Komputer memang sudah pesat dan dapat ditemukan dimana saja. Ajari dan berikan petunjuk bagaimana menggunakan alat canggih dengan baik. Kelak, ia tidak akan merasa Gaptek (gagap teknologi) ketika ia sudah remaja dan bisa memanfaatkan teknologi sebagai sumber informasi bukan disalahgunakan

(Albert Sentosa, dikutip dari edudemic.com)
http://www.kesekolah.com/solusi-pendidikan/yuks-cari-tahu-sumber-motivasi-anak.html

Minggu, 27 Oktober 2013

Nakal dan suka merokok, perilaku siswa SMP yang dipukul guru

Posted by http://smpngalis2.blogspot.com/ | 09.56 Categories:

Reporter : Al Amin | Senin, 30 September 2013 17:26

Nakal dan suka merokok, perilaku siswa SMP yang dipukul guru
Ilustrasi siswa SMPMerdeka.com - Kepala Sekolah SMPN 69, Tanjung Duren Timur, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, Mahyudi mengatakan, Putra Andela (15), pelajar yang dianiaya oleh guru olah raga bernama Slamet, dikenal sebagai siswa nakal.
Dia menjelaskan, alasan Slamet menjewer Putra karena sudah tiga kali anak itu tidak memakai seragam sekolah saat pelajaran olah raga.
"Jadi saat hari kejadian (Kamis, 26/9), siswa ini sudah tiga kali enggak pakai seragam olah raga, jadi kemudian dihukum, disuruh pisah barisan," tutur Mahyudi saat dihubungi, Senin (30/9).

Tindakan yang diambil Slamet, lanjut Mahyudi, merupakan tindakan mendadak. "Si anak tetap bandel, jadi si guru reflek menjewer," ujarnya.

Mahyudi menambahkan, siswa kelas satu tersebut juga dikenal sebagai pelajar yang suka merokok. Bahkan menurut dia, tak jarang Putra merokok di lingkungan sekolah. "Siswa tersebut sering merokok di kelas," ujar pria yang baru dua minggu menjabat kepala sekolah itu.

Untuk menyelesaikan permasalahan ini, Mahyudi mengaku, pihak sekolah sudah mengajak keluarga untuk berdamai. Bahkan perwakilan sekolah pun sudah mendatangi tempat tinggal Putra.

Putra Andela dijewer dan dipukul oleh guru olahraga yang bernama Slamet. Pelajar yang masih duduk di bangku kelas satu itu mengalami pemukulan usai menjalani apel di sekolah.

"Selesai apel, gurunya (Slamet) menjelaskan, langsung saya bilang pak langsung olahraga saja, terus Pak Slamet bilang, siapa yang bilang begitu, maju ke depan," kata Putra.

Setelah itu, lanjut Putra, dia disuruh jalan jongkok ke depan oleh gurunya. "Saya maju saya jongkok, langsung dijewer, kepala saya dipukul pakai tangan kosong," ujar dia.

Selain memukul dengan tangan kosong, Slamet juga mengancam akan memukul dengan cincin yang dikenakannya. "Mau saya pukul pakai cincin?" ujar Putra menirukan hardikan sang guru.

[mtf]





Kurikulum pendidikan 2013 dinilai aneh dan lucu

Posted by http://smpngalis2.blogspot.com/ | 09.49 Categories:

Reporter : Mustiana Lestari | Jumat, 15 Februari 2013 19:25

Kurikulum pendidikan 2013 dinilai aneh dan lucu
ujian nasional. ©2012 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Ada hal ganjil sekaligus menggelikan saat koalisi tolak perubahan kurikulum 2013 membuka kurikulum inti dari Kementerian Pendidikan. Pasalnya ada kesan dipaksakan saat beberapa nilai bermasyarakat dimasukkan ke dalam ilmu pengetahuan alam.


"Kami menemukan kompetensi inti mengikat kompetensi dasar sehingga lucu-lucu, dikatakan membiasakan jujur, disiplin dan bertanggung jawab berkaitan dengan fungsi kuadrat. Memiliki ketangguhan diri dan konsisten menghadapi masalah kehidupan sebagai gambaran fungsi trigonometri. Itu pelajaran kelas 1 SMA," kata Retno Listyarti dari Federasi Serikat Guru di ICW, Jakarta (15/2)



Sebagai guru, Retno mengaku merasa kebingungan karena tak ada instruksi khusus. Apalagi sampai saat ini beberapa pedoman pendamping kurikulum belum juga ada.



"Apa ini yang dianggap kurikulum hebat? Tinggal 4 bulan lagi tapi barang enggak ada, tidak d dokumen kurikulum resmi. Tidak ada ketentuan kurikulum, belum ada pedoman bimbingan dan penilaian. Tampak dipaksakan untuk masuk dalam sistem ini. Kami sebagai guru bingung kalau kita mengajarkan model begini," lanjutnya.



Hal senada diungkapkan pemerhati pendidikan Romo Benny Susetyo. Menurutnya, ilmu alam tidak bisa disangkutpautkan seperti itu. Hal ini menunjukkan Kemendikbud memang sengaja memaksakan meski kurikulum 2013 tidak jelas.



"Ini dilakukan tergesa-gesa dan menunjukkan ketidaksiapan. Melebur IPA dan IPS itu memaksakan pluralisme ke dalam ilmu pengetahuan. Matematika tidak bisa dikaitkan dengan keindonesiaan, justru itu menjadi bingung dengan cara seperti ini. Perubahan kurikulum tidak jelas," tegasnya.



Diketahui, Juli nanti pemerintah tengah bersiap menerapkan Kurikulum 2013. Sebagai langkah awal SD kelas 1-4 kemudian akan diperluas dan dilakukan bertahap ke semua jenjang pendidikan.



Salah satu konten kurikulum yang diubah adalah menyisipkan ilmu pengetahuan satu ke ilmu pengetahuan lain. Selain itu untuk tingkatan SD ada pelajaran bersifat tematik integratif sehingga tidak ada lagi pelajaran IPA maupun IPS. Jika SD diperlakukan demikian, lain halnya SMA, mereka tidak lagi dibagi dalam jurusan IPA, IPS maupun bahasa tapi mereka dibebaskan memilih kelas layaknya mahasiswa perguruan tinggi.

[bal]

http://www.merdeka.com/tag/p/pendidikan/kurikulum-pendidikan-2013-dinilai-aneh-dan-lucu.html

Kemdikbud: Kalau Tak Ada UN, Bagaimana Evaluasinya?

Posted by http://smpngalis2.blogspot.com/ | 09.42 Categories:

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
BANDUNG, KOMPAS.com - Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Khairil Anwar Notodiputro mengatakan, ujian nasional (UN) sebagai salah satu indikator kelulusan harus tetap dilaksanakan. Menurutnya, UN masih merupakan salah satu sarana yang dipandang ideal untuk memetakan mutu pendidikan. Tanpa UN dinilai sulit melakukan pemetaan dan akan berdampak buruk, khususnya pada daerah-daerah yang pembangunan pendidikannya masih lemah.
 
"Jika tidak ada UN bagaimana kita melakukan evaluasi. Ketika ada daerah yang pendidikannya buruk dan kita tidak tahu, maka itu akan menuai protes, dan kita disalahkan karena tidak berbuat sesuatu," kata Khairil, Minggu (11/12/2011) malam, seusai membuka kampanye nasional "Peran Penelitian dan Pengembangan dalam Pembangunan Karakter Bangsa", di Hotel Horison, Bandung, Jawa Barat.
 
Khairil menjelaskan, fungsi utama UN adalah untuk mengukur kemampuan siswa dan mempermudah pemerintah untuk melakukan evaluasi terkait dengan mutu pendidikan. Oleh karena itu, kata dia, UN harus memberikan feed back kepada pemerintah. 
 
Mengenai banyaknya siswa yang tidak lulus UN, menurutnya, bukan alasan untuk mendesakkan penghapusan ujian tersebut. Ia menilai, ketidaklulusan siswa bisa disebabkan sejumlah faktor, yaitu dari diri sendiri, proses pembelajaran dan pelaksanaan UN, serta proses evaluasinya.
 
"Proses pembelajaran ada di sekolah dan faktanya pendidikan kita memang belum merata. Ada yang nilai kelulusannya tapi banyak juga siswa yang tidak lolos," ungkapnya.
 
Kecurangan UN
 
Sementara itu, untuk menekan jumlah kecurangan UN, Kemdikbud telah menarik proses penggandaan dan distribusi soal-soal UN agar kembali dilakukan oleh pemerintah pusat dan provinsi. Menurut Khairil, kecurangan UN, khususnya isu mengenai kebocoran soal terjadi karena wilayah pengawasan pemerintah pusat yang terlalu luas.
 
Kebijakan pemerintah menarik kembali kewenangan daerah dalam melakukan penggandaan dan distribusi soal UN tahun 2012, menurut Khairil, akan memudahkan pemerintah dalam melakukan pengawasan.
 
"Ini mengenai kemampuan kita melakukan kontrol pengendalian pada proses percetakan. Sulit mengendalikan kontrol jika wilayahnya luas. Tahun depan akan lebih mudah, dan setiap soal memiliki kode karena kita menggunakan security printing," ujarnya.
 
Indra Akuntono | Inggried Dwi Wedhaswary | Senin, 12 Desember 2011 | 09:04 WIB
Repro: http://edukasi.kompas.com/read/2011/12/12/09040697/Kemdikbud.Kalau.Tak.Ada.UN.Bagaimana.Evaluasinya

LAYANAN IJAZAH PALSU ON LINE

Posted by http://smpngalis2.blogspot.com/ | 09.38 Categories:
Oleh: Prof. Suyanto, Ph.D 

  Layanan  ijazah  palsu  semakin  canggih!  Para  penjual  ijazah  palsu  telah menggunakan situs di internet. Core business-nya memang menjual ijazah palsu sejak dari ijazah sekolah dasar sampai S-3; dari sekolah ecek-ecek, baik, sangat baik,  sampai  pada  perguruan  tinggi  gurem, maupun  perguruan tinggi  ternama baik di dalam maupun luar negeri. Harganya berkisar antara 10 sampai 75 juta, tergantung  pada  ijazah  jenjang  pendidikan  dan  perguruan  tinggi  mana  yang ingin  dipalsukan.       Bahkan  memalsukan  semua  dokumen  yang  diperlukan  oleh pembeli dijamin bisa, dan selesai dalam waktu yang singkat. Memalsukan surat kematian juga bisa. Memalsukan sertifikat TOEFL juga siap. Memalsukan nilai di atas  transkrip  ijazah  asli  juga  mahir.  Alamatnya  juga  lengkap  di  situs  yang 
mereka  gunakan.  Mau  tahu  di  mana  alamatnya?  Gampang  sekali.  Masuk  ke mesin  pencari Google,  ketik:  “ijazah  aspal”  dan  klik,  kita  akan  mendapatkan berbagai situs yang berjualan segala macam dokumen palsu. Ada paling tidak 50 situs  yang beriklan pembuatan  ijazah palsu  berikut  syarat dan  harganya. Salah satu  iklan  di  http://buatijazah.wordpress.com,  dengan  persuasif  meyakinkan para  pembacanya,  kenapa  seseorang  harus  beli  ijazah?    Jawabnya  yaitu:  (1) tidak harus kuliah dan hemat waktu;  (2) Pasti  tidak akan mengganggu aktifitas anda yang sudah super sibuk; (3) Biaya lebih murah dari kuliah biasa; (4) Ijazah atau  sertifikat  sama  legalnya  dengan  kuliah  biasa;  (5) apat  segera  meraih posisi  atau  jabatan  yang  dikehendaki;  dan  (6)  Bersiap-siap  untuk  segera naik jabatan  atau  pangkat  di  tempat  kerja  anda.  Luar  biasa  kan?  Bagi  yang  suka potong  kompas dalam  meraih  tujuan,  tentu  akan  tergiur  dengan  iklan pembuatan  ijazah  palsu  tersebut.  Media massa  sedang  marak  akhir  akhir  ini mendiskusikan mengapa iklan pembuatan ijazah palsu saat ini merebak di dunia maya.  Hal  ini  karena  berlakuknya  prinsip  dan  hukum  ekonomi,  adanya permintaan  dari  orang  orang  tertentu.  Beberapa  tahun  lalu  juga  marak pembuatan  skripsi  oleh biro  jasa  skripsi.  Itu  saja  kita  merasa  sangat  prihatin sekali.  Sekarang modalitas  pemalsuan produk  pedidikan  selangkah maju,  yaitu langsung pada tujuan finalnya, yaitu pembuatan ijazah palsu. Padalah kalau saja sampai  terungkap,  para  pemalsu  ijazah  dan  juga  para  penggunanya mendapatkan sanksi pidana yang berat, sesuai dengan Pasal 67 ayat 1, Undang-undang  Sisdiknas  yaitu: “Perseorangan,  organisasi,  atau  penyelenggara pendidikan  yang  memberikan  ijazah,  sertifikat kompetensi,  gelar  akademik, profesi, dan/atau vokasi tanpa hak dipidana dengan pidana penjara paling  lama sepuluh  tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).  Para  penjual  dan  pembeli  mungkin  belum  mengenal  pasal  itu. Kalau saja memahami pasal 67 ayat  (1)  tersebut, niscaya mereka akan berpikir dua atau tiga kali untuk menjual dan membeli ijazah palsu. 
  Semua  yang  palsu  memang  tidak  selalu  jelek,  dan  melanggar  hukum pidana.  Gigi  palsu,  bulu mata  palsu,  tangan  palsu,  kaki  palsu,  bunga  palsu, rambut  palsu,  semuanya  justru  membantu manusia  untuk  memenuhi  tujuan estetika. Tetapi kalau yang dipalsukan adalah produk pendidikan, ini merupakan kejahatan,  melanggar  ketentuan  hukum  positif  sektor  pendidikan.  Bayangkan apa  yang terjadi  kalau  yang  dipalsukan  adalah  pendidikan  kedokteran?  Tentu akan  menjadi  malapetka  bagi kehidupan  manusia.  Pemalsuan  dengan  melalui jasa on line sangat canggih, meliputi produk univesitas terkenal di negeri ini, dan juga  bisa  melayani  ijazah  palsu  untuk  semua  jurusan.  Oleh karena  itu  hal  ini merupakan tantangan riil bagi program pendidikan karakter kita saat ini. Relakah seorang mahasiswa menipu dirinya sendiri? Menipu kedua orang tuanya? Menipu masyarakat  yang akan  mendapatkan  layanan  dari  lulusan  sebuah  perguruan tinggi? Para pendidik dan pempimpin sektor pendidikan harus waspada terhadap adanya  gejala  jual  beli  ijazah  yang  semakin  canggih ini. Pencegahan  lebih  dini harus dilakukan dengan cara menanamkan betapa pentingnya memiliki prestasi dengan  perjuangan  sendiri  dalam  tema  tema  pendidikan  karakter.  Dengan memiliki  “self concept”  yang  kuat,  para  pelajar  dan  mahasiswa  kita  akan menjauhi,  dan  akan  berkata  “haram”  untuk  membeli  berbagai  sertifikat  palsu terkait dengan produk pendidikan. Semoga begitu. 

Prof. Suyanto, Ph.D, 
Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta,  
Plt. Dirjen Pendidikan Dasar, Kemdikbud. 

Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kemdikbud/www.dikdas.kemdikbud.go.id 




 Artikel ini pernah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat, 3 Juni 2012.

Guru Harus Berani Mengoreksi Diri

Posted by http://smpngalis2.blogspot.com/ | 09.38 Categories:
Didi Suwardi, S.Pd
Bogor (Dikdas): Bagi Didi Suwardi, S.Pd., ucapan sastrawan Taufiq Ismail seperti cambuk. Di zaman yang berlimpah informasi dan sarat media penyaluran penulisan, menurut sastrawan peraih Penghargaan Akademi Jakarta 2010 itu, dalam sebuah sesi pemberian materi pada Senin sore, 21 Oktober 2013, banyak guru yang masih enggan menulis. Didi pun melihat sebenarnya guru bukannya tidak mampu menulis, namun ketidakbiasaan menulis membuat guru sungkan menulis.
“Yang lebih parah, saya melihat kemampuan apresiasi sastra yang demikian kurang, kita seolah-olah hanya bisa menyuruh siswa. Sementara kita sendiri tidak mampu,” ungkap guru SD Negeri Tugu Utara 01, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, ini saat rehat Lokakarya Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra yang digelar di The Poencer Hotel & Resort, Bogor, pada Rabu sore, 23 Oktober 2013. 
Selama ini, tambah Didi, kegiatan membaca, menulis, dan apresiasi karya sastra tidak menjadi prioritas dalam aktivitas guru. Kesibukan kegiatan administrasi dan ketidakbiasaan menulis pun diangkat menjadi benteng alasan. Namun dengan itikad dan semangat yang tinggi, guru dapat mengubah kondisi demikian asal berani mengoreksi diri.
“Kesalahan bukan pada murid kita, tapi pada diri kita,” tegasnya.
Didi mengaku selama ini ia menulis tapi hanya untuk koleksi pribadi. Hasil pemikiran dan analisisnya dituangkan ke dalam tulisan lalu didiskusikan dalam Kelompok Kerja Guru. Kiriman tulisan ke media lokal tak bergayung sambut, membuatnya terus menjadikan tulisan-tulisannya menumpuk jadi koleksi pribadi.
Tidak semua guru, lanjut Didi, yang enggan menulis. Namun guru yang menulis, hematnya, kebanyakan lantaran kebutuhan untuk naik pangkat. Aksi menyadur tulisan orang lain pun sangat terbuka dilakukan.
Didi bersyukur menjadi salah satu peserta Lokakarya MMAS yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Narasumber yang dihadirkan pun dapat menjadi referensi terpercaya dalam proses perkembangan menulis guru. 
Sekembali pulang ke sekolah, ia berniat menerapkan sejumlah metode yang didapat selama Lokakarya. Salah satunya tentang buku besar (big book) yang didapatnya saat pemberian materi tentang membaca.
“Sangat bagus. Bisa dikembangkan di sekolah saya karena sumber dan potensinya bisa. Kedua, saya ingin menggali bagaimana membuat anak mau menulis,” katanya.* (Billy Antoro)
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube